BLOG

Belajar Marketing Dari Fenomena Ramadhan Vibes

Ramadhan vibes bisa jadi salah satu fenomena sosial terbesar di dunia dan jika diamati lebih dalam fenomena ini bisa kita adaptasikan ke strategi marketing untuk bisnis lho. Bagaimana caranya? Ada 3 hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

1. Menciptakan Situasi “Social Conformity

Jika dilihat dari sisi semarak dan kegaduhannya, bulan Ramadhan memiliki durasi “gaduh” yang jauh lebih lama dibanding hari-hari besar lainnya. Selama 29 hari penuh hampir seluruh masyarakat Indonesia terlibat membicarakannya. Mulai dari sekedar memberi ucapan selamat, saling meminta maaf hingga membicarakan hal-hal unik yang hanya terjadi di bulan Ramadhan seperti iklan sirup yang bertebaran dimana-mana, acara-acara tausiyah, tarawih, ngabuburit, buka bersama dan sebagainya.

Bayangkan saja jika Ramadhan tiba tanpa ada orang-orang yang membicarakan hal-hal seru di atas! Jadi membosankan pastinya.

Inilah yang disebut dengan social conformity dimana masyarakat merasa wajib mengikuti tren yang ada dan tenggelam di dalamnya agar tidak merasa ketinggalan.

Dalam hal marketing, social conformity juga bisa diciptakan dengan membuat produk kita menjadi pembicaraan dimana-mana. Caranya juga beragam, salah satunya bisa dimulai dari membuat konten unik di media sosial.

Seorang marketer yang hebat harus bisa membuat banyak orang merasakan vibes atau getaran emosional dari produknya. Terlepas orang-orang itu akan beli atau tidak.

2. Mencari “Anchoring Momentum

Anchoring momentum adalah sebuah momen yang bisa diasosiasikan sebagai sesuatu hal tertentu di alam bawah sadar manusia. Sebagai contoh di bulan Ramadhan banyak sekali momentum yang bisa dijadikan anchor. Saat kita sebut momentum seperti buka bersama, ngabuburit, berburu takjil, malam takbiran, pasti yang pertama muncul di otak kita adalah bulan Ramadhan.

Bagaimana dengan bisnis milikmu? Momentum apa yang bisa langsung dikaitkan dengan produk yang kamu jual? dan ketika target pasarmu sedang mengalami momentum tersebut apakah sudah pasti produkmu yang muncul dipikiran mereka? atau justru produk kompetitor?

Memang menciptakan anchoring ini tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Perlu komitmen kuat, positioning yang jelas dan waktu yang relatif panjang.

3. Mempertahankan Momentum

Seperti yang Storelogy sebut di awal. Momentum Ramadhan memiliki durasi yang cukup lama. Momentum ini juga disebut dengan Ramadhan Vibes. Salah satu kehebatan bulan ini adalah bagaimana bulan ini bisa membuat umat muslim tetap berada di satu momentum yang sama selama satu bulan penuh. Mulai dari hari pertama hingga hari terakhir, getaran bulan Ramadhan tidak semakin melemah tapi justru semakin kuat walaupun bagi sebagian orang merasakan ada penurunan di pertengahan. Tapi penurunan momentum itu berhasil diantisipasi di 10 hari terakhir dengan kompensasi yang luar biasa besarnya.

Bagi sebagian besar pebisnis atau marketer, mempertahankan momentum seperti itu merupakan tantangan besar. Pebisnis yang hebat harus tahu bagaimana caranya mengantisipasi agar tidak kehilangan momentum. Caranya? Kamu bisa mulai riset kecil untuk cari tahu kira-kira kapan momentum itu akan turun dan buat strategi antisipasinya.

Misalkan kamu berbisnis di bidang fashion, kebanyakan momentum bisnis fashion adalah saat lebaran, natal dan pergantian tahun. Diluar momentum itu biasanya penjualan relatif stagnan. Kamu bisa buat program promo spesial bulanan 1.1 , 2.2, 3.3 dan seterusnya. Dengan begitu, kamu bisa menjaga momentum penjualan tetap tinggi setiap bulannya.

Hello!

Silahkan Login ke Akun Anda