BLOG

emotional branding

Emotional Branding: Menjadi Nomor Satu di Hati Konsumen

Bagaimana Emotional Branding Bisa Membuat Konsumen Menjadi Loyal ?

Satu kunci utama yang harus dipahami jika Anda ingin menerapkan strategi Emotional Branding dalam bisnis Anda yaitu Anda harus tahu persis apa yang menjadi pemicu emosi calon konsumen Anda. Emosi yang dimaksud tidak terbatas pada satu jenis emosi saja melainkan keseluruhan. Seperti rasa takut, rasa sakit, bahagia, puas hingga rasa sedih. Dengan memahami apa saja pemicu emosi dari calon konsumen Anda, maka Anda bisa dengan leluasa “memainkannya” dalam setiap kegiatan marketing Anda.

Pernahkah Anda membeli segelas kopi Starbucks dan mendapati nama Anda tertulis disana? Atau Anda pernah membeli satu kaleng Coca Cola lalu mendapati ada tulisan romantis di bagian belakang kalengnya?

15 Times Starbucks Employees Hilariously Misspelled Names

Jika pernah, maka SELAMAT!!! Anda telah menjadi sasaran emotional branding dari brand tersebut.

Dalam beberapa contoh kasus, pemilik brand memanfaatkan faktor emosi ini untuk dijadikan tema dalam iklan-iklan mereka baik itu dalam bentuk video maupun visual poster. Salah satu contoh sederhana seperti yang dilakukan oleh salah satu social creative agency dari Australia, Havas. Havas berhasil memanfaatkan faktor emosi ini menjadi sebuah campaign dengan tujuan yang cukup sederhana yaitu membuat sebanyak mungkin orang tersenyum bahagia saat menjalani kesibukkannya sehari-hari hanya dengan membagikan sebuah cookies dan mendokumentasikannya dengan baik.

Hasil dari campaign tersebut bisa Anda lihat dengan cara klik gambar di bawah ini.

Contoh lain, banyak dilakukan oleh pemilik brand di Instagram. Salah satunya adalah akun Instagram social funding @kitabisacom. Akun ini selalu menyajikan visual-visual yang bisa membangkitkan rasa iba atau belas kasih ketika Anda melihatnya sehingga Anda tertarik untuk memberikan sumbangan melalui link yang ada

Dalam menjalankan strategi Emotional Branding, sekali lagi, Anda harus benar-benar memahami pemicu emosi calon konsumen Anda. Jika Anda sedang menjalankan bisnis fashion misalkan, Anda bisa ceritakan bagaimana perasaan salah satu customer Anda setelah menggunakan produk fashion Anda. Apakah mereka merasa cantik? Nyaman? semakin percaya diri? ceritakan ulang testimoni mereka dengan bahasa semenarik mungkin.

Sebaliknya, Anda juga bisa “menakut-nakuti” mereka jika mereka tidak segera menggunakan produk Anda. Misalkan, jika produk Anda adalah suplemen pelangsing, Anda bisa sesekali ceritakan akibat yang bisa ditimbulkan karena obesitas.

Pin on J446 Photo & Illustrations

Lebih sederhana lagi, Anda bisa menjalin kedekatan dengan konsumen Anda dengan memanfaatkan hari spesial mereka. Anda bisa memberikan mereka bingkisan khusus saat mereka ulang tahun, voucher potongan harga saat mereka sedang merayakan anniversary lengkap dengan kartu ucapan yang romantis

Anda juga bisa membuat sebuah komunitas pelanggan secara online atau offline dimana Anda bisa menjalin kontak dengan lebih intensif, bukan hanya untuk promosi saja, tetapi juga untuk memfasilitasi mereka dalam berkonsultasi menceritakan apa kendala yang mereka alami.

Emotional branding juga bisa didapatkan melalui kualitas produk yang baik, kualitas pelayanan yang baik dan kualitas after sales yang baik

Dengan melakukan emotional branding dengan baik, maka konsumen akan merasa dekat dengan produk Anda dan produk Anda berpotensi menjadi nomor satu dalam pikiran mereka

Sederhana? Tidak juga!

Tapi, it is worth to try!

Hello!

Silahkan Login ke Akun Anda